Selama beberapa dekade, konsep kedisiplinan di sekolah seringkali diasosiasikan dengan aturan yang kaku, sanksi fisik, dan suasana yang mencekam. Namun, paradigma lama tersebut mulai ditinggalkan oleh banyak sekolah progresif, salah satunya adalah SMA 1 Magelang. Sekolah unggulan ini mengembangkan sebuah sistem pendidikan karakter yang sangat menarik untuk dibahas, yaitu penerapan disiplin melalui Pendekatan yang memanusiakan manusia. Mereka percaya bahwa aturan akan jauh lebih efektif jika dijalankan atas dasar kesadaran dan pemahaman, bukan karena rasa takut terhadap hukuman yang membayangi.
Pendekatan humanis yang diterapkan di SMA 1 Magelang mengedepankan dialog antara pihak sekolah dan siswa. Ketika terjadi pelanggaran, fokus utama guru bukanlah pada pemberian hukuman, melainkan pada pencarian akar masalah. Siswa diajak untuk berefleksi mengenai tindakan yang dilakukan dan bagaimana dampak tindakan tersebut bagi dirinya sendiri serta lingkungan sekitar. Dengan cara ini, siswa belajar untuk bertanggung jawab secara internal. Mereka mematuhi aturan karena mereka tahu itu adalah hal yang benar untuk dilakukan, bukan karena ada guru yang mengawasi.
Salah satu kunci keberhasilan Pendekatan ini adalah terciptanya hubungan yang harmonis antara pendidik dan peserta didik. Guru tidak lagi memosisikan diri sebagai polisi sekolah yang mencari-cari kesalahan, melainkan sebagai mentor dan sahabat yang siap membimbing. Suasana sekolah menjadi lebih rileks namun tetap memiliki koridor yang jelas. Hal ini sangat berdampak positif pada kesehatan mental siswa. Di tengah tuntutan akademik yang tinggi, siswa merasa didukung dan dihargai, sehingga potensi kreatif mereka dapat muncul tanpa terhambat oleh rasa cemas yang berlebihan.
Dalam Pendekatan humanis, partisipasi siswa dalam pembuatan aturan juga sangat dihargai. Seringkali, perwakilan siswa dilibatkan dalam diskusi mengenai kebijakan sekolah yang menyangkut kepentingan mereka. Ketika siswa merasa suara mereka didengar, mereka akan memiliki rasa kepemilikan (sense of belonging) yang lebih tinggi terhadap sekolah. Rasa memiliki inilah yang kemudian mendorong mereka untuk menjaga nama baik sekolah dengan cara berperilaku disiplin secara sukarela. Mereka merasa bahwa aturan tersebut adalah milik bersama, bukan sesuatu yang dipaksakan dari atas.
